Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi: memungut detik demi detik,

merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa. “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?”

tanyamu. Kita abadi.

-Sapardi Djoko Damono

Advertisements

Some Random Thoughts

Huft…

Beberapa bulan yang lalu, gua memutuskan untuk keluar dari circle pertemanan gua. Sebenernya gua ngerasa fine-fine aja di sana. Orang-orangnya pun seru semua, yah walaupun cuma bisa ketemu 1-2x dalam setahun karena kita kuliah di kota-kota yang berbeda.

Kita berteman udah cukup lama, since JHS. Awalnya dari temen sekelas, nyambung, terus temen nongkrong. Oke, itu premisnya. Kemudian, seperti layaknya hidup, masing-masing dari kita punya circle masing-masing  (fortunately kita masih suka main bareng). Semuanya juga menekuni hidup masing-masing. Menurut gua, semuanya berkembang dan on the right path dalam menjalani hidupnya.

Nah disini masalahnya, entah kenapa hidup gua masih berkutat dengan mereka. Rasanya cuma sedikit circle dan salah satunya mereka tempat gua berkumpul dan bisa lepas. Disaat yang lain berkembang, gua rasa hidup gua gini-gini aja. Gak berkembang. Disaat yang lain jadi orang keren, gua masih segini-gini aja haha. Buktinya adalah saat kita ngumpul dan bercerita, temen-temen gua ini punya segudang cerita baru. Gua? hanya bisa recall cerita lama dari JHS dan pengalaman gua di pasar modal yang mungkin tidak terlalu menarik.

Gua rasa mereka adalah comfort zone dan seperti orang keren lain gua harus keluar dari comfort zone gua. Mereka gak salah dan gak akan pernah salah tentang hal ini. Masalahnya ada di gua sendiri, apakah gua berani keluar dari comfort zone? Yap, gua memutuskan untuk keluar. Untuk menjadi orang keren dibutuhkan pengorbanan, bukan? Whatever it takes kalau kata Captain America mah. Marcopolo kalau tetep di Venezia gak bakal jadi seperti Marcopolo yang kita kenal sekarang bukan? Atau Thomas Alva Edison kalau menyerah di percobaan ke-100 bohlam lampu, mungkin nama beliau tidak seterkenal sekarang? Haha.

In the end, I just wanna focus on my life and be a cool guys just like my matesSee you on top!

Elegimu Elegiku

Tak kuizinkan kau kecup keningku

Biarlah anganmu memuaskanmu

Tak ada esok pagi bagimu

Ditelan waktu kembangmu layu!

 

Perihal bosanmu itu urusanmu

Biarlah bayangmu menemanimu

Temukan sendiri dirimu

Buanglah sepi malam akan panjang bagimu!

 

Kenang saja mengapa minta izin?

Apa kita pantas disebut perjalanan?

Nyanyilah! tembangkan lagumu

Nadamu sumbang penuhlah sedihmu!

 

Rindu saja mengapa minta izin?

Lagi pula rambutku tak hitam lagi kini

Menangislah! lengkapi tembang cengengmu

Oh nona masih tersisa air matamu?

 

Terakhir kukira kita setuju

Perihal rindu

Biarlah ia bersemayam di mimpi

Di atas mimpi

 

-Bandung, 2019.

Terinspirasi dari Elegi Esok Pagi karya Ebiet G. Ade.

 

Setengah Jiwa yang Hilang Ditelan Jiwa Lain

Padamu!

Seruku pada sang jagal

Telak kau tebas  tulang punggungku

Dan kini kau meminta hatiku juga?

Bedebah kau!

 

Keras sekali hujaman gadamu padaku

Kini remuk pula tulang dadaku

Matilah aku pikirku

Terkejut aku yang dimintai cumbu olehmu

Memang sialan!

 

Puas kau?

Tersisa sedikit tulung rusuk

Padanya disisipkan jantungku

Jantung yang dulu berdetak untukmu

Ratu tega kau binasakan aku!

 

Riak kolam darahku

Samar-samar kematianku

Sederas keyakinanku dulu padamu

Kucumbu bayangmu

Pasrah! kusandarkan harapanku

 

-Bandung, 2019.

Terinpirasi dari Untuk Sebuah Nama – Ebiet G. Ade.

Welcome, Bedjo!

Welcome, Bedjo!

Terimakasih bapak dan ibu yang telah menawarkan motor ini, nanti kalo bagas udah punya uang bagas ganti kok:(

 

Sayang belum bisa dibawa ke Bandung karena STNK dan nopol belum keluar (kurang lebih 45 hari kerja). Kesan pertama membawa Bedjo (pas pulang kemaren) itu tarikannya enak apalagi di kecepatan 40-60 kmh, suspensinya ga terlalu empuk (kalo mau diatur bisa kok), riding position-nya nyaman, joknya tinggi (dengan tinggi 173 cm gua kadang agak jinjit, kalau gak mau jinjit solusinya pake lowering kit), berat (mungkin karena materialnya memakai steel bukan plastik) dan diklaksonin/disapa para pengguna vespa lainnya, baik itu vespa matic maupun classic. Nah, poin terakhir ini ga gua dapatkan di motor jepang yang sebelumnya gua pake, jadi masih suka ga ngeh kalo diklaksonin hehe.

Wellsee you in Bandung, djo!

 

 

Kamu yang Menyeberang Perempatan dan Tak Pernah Terlihat Lagi Batang Hidungnya

Aku mencintaimu dengan ketidakadaan

Saat ku terbangun tak ada senyummu di sampingku

Tak ada kamu di perapian

Yang biasa kulihat dari arah ruang baca kita

Begitu juga saat ku berjalan menembus jalanan becek

Tak ada kamu berjalan di sampingku

Saat hujan tiba

Tidak ada kamu yang misuh-misuh

Menyuruhku mengangkat jemuran kita

Teater yang biasa kita datangi berdua

Kini kosong tanpamu duduk di sebelahku

 

Pintarnya diriku

Semakin lihai mencintai dan memujamu

Dalam ketidakadaanmu

Atau bodohnya diriku

Yang dengan ikhlas memujamu yang telah tiada

 

 

i will. always.

Bandung, 2018.