(not so) Annual Letter

Periode          : Nov’17 – Okt’18

Awal November 2017 menjadi titik dimana saya memulai hidup saya sebagai seorang investor. Mengapa saya memilih investing bukan trading? karena sebelum saya membuka akun RDI saya, saya telah membaca sedikit buku The Intelligent Investor Ben Graham dan menghadiri seminar KSEP ITB yang menghadirkan Pak Lo Kheng Hong. Keduanya “meracuni” saya.

WSKT

Emiten pertama yang saya beli sahamnya adalah WSKT (Waskita Karya) di harga rata-rata 2190 per lembar saham. Alasan saya memilih WSKT adalah karena market capnya terbesar dibandingkan dengan kompetitor-kompetitornya di sektor sejenis, saya yakin di pemerintahan Bapak Jokowi kinerja perusahaan konstruksi bakal meningkat, dan PER dari WSKT (pada saat itu) sekitar 9. Pada saat itu, saya belum terlalu ngeh dengan analisis fundamental dengan pendekatan value investing.

Kesalahan pertama

Selang seminggu setelah membeli WSKT, saya memtuskan untuk memperkaya portofolio saya dengan membeli sebagian kepemilikan dari MBSS (Mitra Bahtersa Segara), sebuah perusahaan kapal pengangkutan batubara, yang beroperasi di Kalimantan. Alasan saya membeli saham ini adalah seiring dengan kenaikan harga komoditas batu bara saat itu menyebabkan kinerja  perusahaan batubara rebound. Sehingga saya yakin saham MBSS “kecipratan” untung juga. Mungkin alasan tersebut masuk akal, tapi waktu saya membeli tidak tepat. Saya membeli MBSS di harga 800 padahal saham ini telah naik dari angka 500. Tak lama kemudian, harga saham tersebut kembali turun menjadi 500an per lembar saham. Akhirnya, saya jual rugi di harga 575 per lembar saham. Intinya, kesalahan saya disini adalah saya terjebak euforia pasar modal. Kesalahan ini wajar bagi investor pemula seperti saya. Agar kedepannya tidak terjadi kesalahan serupa, saya harus mengontol emosi saya agar tetap tenang dan berusaha tidak “terlalu peduli” dengan rumor-rumor yang beredar di forum-forum internet.

Cuan pertama!

Selama 2 bulan awal ini, saya  terus memperbesar modal saya  dengan rajin menyisihkan uang jajan saya ke akun RDI saya. Lalu, akhir Desember 2017, setelah saya baca-baca laporan keuangan dan forum di internet (haduh). Saya dihadapkan pada 2 pilihan, invest di BRPT (Barito Pasific) atau PTBA (Bukit Asam)Pada akhirnya, pilihan terakhirlah yang saya pilih. Saya membeli PTBA dengan harga 2530 per lembar saham. Setelah kurang lebih 1 bulan, mungkin akibat January effect, harga IHSG mencapai all-time high di angka 66xx (lupa pastinya berapa). Kenaikan IHSG menyebabkan saham-saham di portofolio saya hijau semua! Waktu itu, kepercayaan diri saya naik dan saya sedikit sombong haha. Kesombongan ini tidak boleh lagi terjadi karena bisa mempengaruhi psikologi saya di pasar modal #ehem.  Oke, singkatnya, pada akhir Januari, saya menjual saham saya di angka 3340 per lembar saham.  Alhamdulillah, ini cuan pertama saya. Sebagian uangnya saya masukkan kembali ke RDI saya dan sebagian lagi saya belikan PHD hehe. Jika saya lebih sabar lagi sebenernya harga saham PTBA sekarang ada di angka 4560 per lembar saham, tapi tidak apa-apa karena dengan cuan segitu pun saya sudah bahagia.

Kecelakaan kerja dan IHSG bearish

Saya menambah kepemilikan saya di WSKT dengan membeli beberapa lot di harga 2800 per lembar (sebagian dari hasil penjualan PTBA), sudah cukup mahal memang, tetapi pada waktu itu saya yakin WSKT bisa naik hingga 5000 per lembar saham. Hal ini saya dapatkan dari rumor-rumor di internet (haduuh) dan dari berita-berita yang ada pun saat itu WSKT selalu mendapatkan berita positif. Pelajaran yang dapat adalah selektif dalam membaca rumor dan berita yang beredar karena tidak selamanya mereka benar, bisa jadi ada “kepentingan” di balik rumor dan berita tersebut. Unlucky, setelah berhasil menembus angka 3000an per lembar saham, terjadi kecelakaan kerja di salah satu proyek WSKT yang menyebabkan sahamnya turun sepersekian persen. Saya sempat panik pada waktu itu dan berpikir untuk menjual sahamnya di angka 30xx per lembar saham, tetapi saya urungkan niat tersebut karena saya masih yakin dengan kinerja perusahaan kedepannya. Ternyata, selang beberapa minggu kemudian, kecelakaan yang melibatkan WSKT ini terjadi lagi, kali ini di Bandara Soekarno-Hatta yang menyebabkan 1 orang meninggal. Sudah jatuh ketimpa tangga adalah peribahasa yang tepat menggambarkan portofolio saya pada saat itu karena IHSG juga bearish!! Harga saham saya turun dan saya pun mengambil keputusan untuk menjual sebagian besar saham WSKT saya di harga rata-rata 2400 per lembar saham. Duuh! Oiya, saya juga membeli beberapa lot SSIA (Surya Internusa) di harga 600 per lembar saham dan di kemudian hari saham inilah yang membuat saya nyangkut cukup dalam.

Hibernasi dan mengapa SSIA?

Setelah kejadian WSKT itu saya memutuskan untuk hibernasi dulu dari pasar modal dikarenakan kesibukan kuliah  dan  masalah pribadi yang menimpa saya pada saat itu. Sebelum saya berhibernasi, saya membeli beberapa lot SSIA dengan mempertimbangkan prospek perusahaan ke depan setelah mengakuisisi tanah 200 ha di Subang untuk dijadikan kawasa industri baru yang akan terintegrasi dengan Pelabuhan Petimban (sedang dibangun) dan Bandara Internasional Kertajati nantinya. Memang, setelah saya membeli saham ini, harga saham ini langsung turun. Namun, saya yakin dengan prospek yang ditawarkan SSIA untuk 2-3 tahun ke depan sembari tetap mengawasi kinerja perusahaan ini dengan menganalisis laporan keuangan, laporan tahunan, dan public expose SSIA.

Bluechip pertama 

Untuk menyeimbangkan portofolio saya yang sebelumnya banyak diisi oleh saham second dan third liner, saya memutuskan untuk mengalokasikan sebagian modal saya hasil penjualan WSKT untuk menmbeli beberap lot saham BBRI (Bank Rakyat Indonesia). Saya tahu dari forum-forum di internet bahwa saham BBRI adalah salah satu saham hebat dan banyak diperjualbelikan di IHSG, seperti BBCA, UNVR,  TLKM, dan ASII.  ROE yang rajin di atas 20% tiap tahunnya dan market cap yang sangat besar membuat saya membeli saham BBRI di harga 3220 per lembar saham. Pada saat itu, saya pikir harga tersebut cukup murah, apalagi BBRI sempat menyentuh 39xx per lembar saham pada January effect lalu. Saya juga membeli beberapa lot saham WSBP (Wakita Beton Precast) yang di kemudian hari menjadi gacoan saya. Pada akhir bulan Mei, setelah semester 4 saya selesai, saya jor-joran membeli beberapa saham WSKT, BBRI, dan WSBP. Hal ini saya lakukan untuk menerapkan average down dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang sedang lesu.

WSBP

Waskita Beton Precast Tbk. merupakan pemain baru di industri konstruksi dimana perusahaan ini banyak memproduksi dan  menyuplai girder box untuk proyek jembatan, jalan layang, dan struktur bangunan lainnya. Girder ini banyak sekali macam-macamnya, ada U-shaped girder, T-girder, dll. WSBP  adalah anak perusahaan Waskita Karya, dimana sebagian besar proyek WSBP berasal dari induk perusahaannya tersebut. Setelah membaca dan menganalisis laporan keuangan dari WSBP, saya yakin perusahaan ini termasuk perusahaan bagus. Hitungan kasar saya, harga wajar saham ini sekitar 500 per lembar saham. Saya cukup beruntung bisa memiliki di harga rata-rata 368 per lembar saham setelah beberapa kali melakukan average down.

Pre-Ending

Ada beberapa saham lagi yang saya beli dan saya tidak sebutkan disini. Saya mencoba melakukan diversifikasi sektor dengan menambah kepemilikan saya di sub-sektor misc. industry dan petrokimia pada harga yang undervalue. Intinya, per tanggal 14 Oktober ini, portofolio saya turun sekitar 10% lebih buruk sedikit dibandingkan dengan penurunan IHSG (ytd) sebesar 9.19%. Kesalahan saya adalah saya tidak membaca arah pergerakan pasar yang terpengaruh oleh kebijakan the fed, devaluasi rupiah terhadap dollar, investor asing yang ramai menarik uangnya dari BEI, dan tahun politik 2019. Semoga pada akhir Desember 2018, nilai portofolio saya membaik dan apa-apa yang menimpa saya bisa saya jadikan pelajaran untuk menjadi investor yang lebih baik lagi. Aamiin.

Advertisements

Daftar Buku Bagus yang Layak Dibaca

Sebenernya gue orangnya ga terlalu suka baca buku, apalagi bukunya setebel Harry Potter 5 haha bisa bikin ngantuk euy, tapi kalo udah nemu buku bagus pasti gua baca sampai habis. Dari beberapa buku yang gua rekomendasikan ini ada beberapa yang ngebekas banget dan ngubah cara pandang gua terhadap suatu hal. Yak, buku-buku tersebut adalah…

  1. Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)

Keren banget! Cara Pak Pram mendeskripsikan suasana Surabaya pada awal abad 20 luar biasa. Penggambaran perjuangan yang tidak biasa, seorang anak priayi Jawa bernama Minke yang mendapatkan ajaran Eropa dilema melihat ketidakberdayaan pribumi diperintah oleh kolonial. Kisah percintaannya dengan Annelies dan sosok Nyai Ontosoroh yang tidak bisa disetir menjadi nilai plus yang membuat buku ini layak dibaca, khususnya bagi yang suka sejarah hehe. Oiya, buku ini lagi diangkat menjadi film layar lebar oleh Om Hanung Bramantyo. Semoga tidak mengecewakan ya..

2  Ranah 3 Warna (Ahmad Fuadi)

From zero to hero mungkin bagi sebagian orang adalah tema yang membosankan sekaligus yang paling menjual untuk dijadikan sebuah cerita yang bagus. Namun, tidak bagi saya dengan saya cantumkan Ranah 3 Warna ke dalam daftar ini. Ya, buku ini bercerita tentang kehidupan Alif selepas lulus dari Pondok Pesantren Madani yang ingin berkuliah dan menginjakkan kaki di benua Amerika.  Uda Ahmad Fuadi berhasil menggambarkan secara utuh nasib mahasiswa tak mampu seperti Alif, ia harus berjualan keliling, menjadi guru les privat, dijambret, makan pas-pasan, dan dilatih menulis habis-habisan oleh Bang Togar. Konflik yang lebih pelik membuat saya lebih suka buku ini daripada prekuelnya, Negeri 5 Menara.

3. Rich Dad Poor Dad (Robert T. Kiyosaki)

Buku ini  mengubah cara pandang gua tentang kekayaan dan uang. Yang paling gua inget ini, “Jangan bekerja untuk uang, biarkan uang bekerja untuk anda” HAHA. Dari quotes itu, Pak Robert membagi profesi orang dalam 4 kuadran yaitu E(employee), S(Self Employed), B(Businesman), dan I (Investor). Lalu, gua jadi tau apa itu aset, liabilitas, ekuitas, financial freedom, absolute financial freedom, dan cashflow. Menarik, bukan?

4. The Intelligent Investor (Benjamin Graham)

Para investor saham menganggap buku ini sebagai KITAB SUCI INVESTOR SAHAM. Wow. Buku ini juga direkomendasikan oleh salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffett. Jadi, udah jelas kan kenapa buku ini masuk daftar buku layak dibaca?

5. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (Buya Hamka)

Hayati, kekasihku..

Setelah menonton filmnya yang dibintangi oleh Herjunot Ali (Zainuddin), Pevita Pearce (Hayati), dan Reza Rahardian (Aziz), gua langsung beli novelnya di temen sekelas yang jualan buku. Bagi gua, buku ini bukan sekadar kisah cinta Zainuddin-Hayati yang tak direstui. Eyang Buya Hamka menyindir kebudayaan Minang yang begitu meluhurkan kesukuan dan status Aziz dibandingkan ketulusan dan budi seorang Zainuddin. Gua juga terkesima melihat kerja keras Zainuddin setelah terpuruk melihat kekasihnya telah dipinang orang lain, cyan..

6. Alex Ferguson, My Autobiography (Sir Alex Ferguson)

As a Kopites, i hate Mancs. But as a football fan, i’ve my great respect to him. To everything that he gives to Mancs, his desire, his passion, his infamous “Fergie Time”, he is flawless. 

Sir Alex Ferguson adalah panutan saya, khususnya saat bermain Football Manager HAHAHA. Beliau blak-blakan menceritakan perjalananya me-manage Manchester United, saat ia melemparkan sepatu ke Beckham, perang komentar dengan Rafael Benitez, hubungannya dengan Roy Keane, sampai bagaimana beliau melewati jumlah trophy EPL klub saya, Liverpool (huhu) dijelaskan dengan alur yang mudah dicerna di buku ini. Seandainya, beliau me-manage Liverpool..

7. I am Gifted, So Are You! (Adam Khoo)

Buku ini pertama kali gua baca pas SD dan kesan gua adalah “anjir kece banget Adam Khoo dari murid paling tolol dan sekarang jadi entrepreneur sukses di S’pore”. Yah, intinya setelah dia mengikuti sebuah training dan mengubah cara belajarnya menjadi lebih menarik, dia bisa berubah jadi murid berprestasi. Ditambah buku ini mengupas cara-cara belajar (terutama membaca dan menghafal) yang efektif dan efisien. Terakhir, gua pertama kali kenal mind map ya dari buku ini.

 

Honorable Mentions:

  • 5 cm (ringan temanya, terus banyak insight soal pop-culture gitu)
  • Madilog (banyak ga ngerti karena Pak Tan Malaka pake bahasa melayu lama HAHA, tapi dari yang gua dapet sih dari buku ini gua tau kalo Tan Malaka itu pinterr banget)
  • Kumpulan buku komik 3 menit (bacaan seru pas SD, banyak ilmunya pokoknya)

 

Yang lagi dibaca sekarang:

  • Sapiens (Yuval Noah Harari)
  • Jejak Langkah (Pramoedya Ananta Toer)
  • Value Investing Beat The Market in Five Minutes (Teguh Hidayat)

 

Bagaimana netizen budiman, ada saran?